Uncategorized

UN, Mutu Pendidikan, Dan Peradaban Kita

PADA 10-13 April ini digelar pelaksanaan ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA dan sederajat. Walaupun standar kelulusan UN bukan lagi sekadar nilai UN, tetapi UN masih menjadi salah satu penyangga penting arah pendidikan nasional Indonesia. Setidaknya dari nilai UN bisa dilihat kualitas pendidikan kita. Kejujuran dalam UN juga menjadi bukti arah pendidikan karakter yang sedang digalakkan Kemendikbud. Kesiapan sekolah tidak kalah pentingnya dalam menjaga iklim belajar yang kondusif bagi peserta didik. Sedangkan guru menjadi ujung tombak sangat menentukan lahirnya generasi baru yang berkualitas dan beretika. Sementara pemerintah berperan penting memberikan regulasi yang mendukung kualitas pendidikan yang menjanjikan.

Cermin pendidikan

Walaupun arah masa depan pendidikan nasional bukan hanya dinilai dalam hasil UN, akan tetapi hasil UN, apakah baik atau buruk, ialah cerminan dari arah pendidikan nasional kita. Prof Winarno (2008) melihat bahwa wajah pendidikan nasional kita harus dilihat secara detail, jangan sampai ad hoc dan sepotong-potong. Butuh rancangan dan strategi menyikapi beragam tragedi yang terus menyelimuti pendidikan nasional kita. Bagi penulis, dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari beberapa hal. Seperti pemegang kebijakan (Depdiknas), guru, siswa, mekanisme pendidikan, dan sarana pendukung. Beberapa hal ini harus saling kait-mengkait untuk menghasilkan mutu pendidikan berkualitas. Terjadinya berbagai tragedi pendidikan, gagal dalam UN, misalnya, jangan hanya menyalahkan siswa, karena siswa dalam mekanisme dunia pendidikan bukan berdiri sendiri. Dalam konteks inilah, mutu pendidikan nasional harus segera dibangkitkan dengan serius. Dengan melakukan peningkatan kualitas kurikulum, guru, managerial, dan sarana pendukung. Dalam hal kualitas kurikulum, wajah pendidikan Indonesia sangat mengenaskan. Karena sering kali terjadi tragedi, yakni tidak adanya konsistensi kebijakan antara satu pemegang kebijakan dengan pemegang kebijakan berikutnya.

Setiap pergantian menteri juga berarti pergantian kebijakan kurikulum. Sekolah dan guru kerap kali bingung dengan berbagai kebijakan kurikulum yang dijalankan dinas pendidikan. Sehingga menjadikan arah pengelolaan pendidikan buram dan menyesakkan. Untuk itu, kurikulum harus disusun dengan serius, tidak mudah dirombak, dan sesuai dengan jati diri bangsa untuk kemajuan Indonesia. Adapun dalam peningkatan kualitas guru, pemerintah tidak hanya dengan peningkatan jenjang pendidikan guru, seperti melanjutkan strata dua. Tetapi, yang lebih krusial, peningkatan kualitas guru secara substansial. Dalam arti guru mampu menjadi inspirasi siswa dalam mengembangkan kemampuan akademik, kepribadian dan sosialnya. Guru yang inspiratif inilah yang harus diciptakan pemerintah. Sehingga guru tidak hanya terjebak dalam label formal pendidikan, dan program sertifikasi saja yang ujungnya hanya mencari material an sich.

Selain itu, kualitas managerial dengan pemimpin pendidikan yang inovatif juga sangat menunjang arah masa depan pendidikan kita. Pemimpin di sini meliputi seluruh kepemimpinan yang ada di negeri ini, khususnya kepemimpinan dalam pendidikan nasional kita. Kemendikbud sebagai pemegang kebijakan harus menerapkan konsep kepemimpinan yang bisa memberikan daya kemajuan dan inovasi kepada seluruh sekolah dan perguruan tinggi di RI. Kebijakan Kemendikbud akan menjadi rujukan utama. Selama ini, terkadang Kemendikbud gampang mengeluarkan kebijakan bongkar pasang. Satu menteri ke menteri berikutnya selalu diikuti pergantian kebijakan yang membingungkan, sehingga operasionalisasi pendidikan selalu terhambat di tengah jalan. Kebijakan kementerian yang berganti-ganti inilah yang menjadi problem serius kepemimpinan yang terpatri dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Dibutuhkan kepemimpinan seorang menteri yang bisa memberikan daya inovasi yang progresif sehingga wajah kemajuan segera teralisir. Dengan leadership yang baik, bisa dipastikan melahirkan kebijakan yang mengarahkan pendidikan kepada pembentukan pola kemajuan yang terarah. Di samping itu, kepemimpinan pendidikan juga harus semakin membaik sampai tingkat bawah. Bukan hanya tingkat kementerian, tetapi juga sampai Diknas wilayah dan kabupaten. Di samping sarana pendukung yang mencukupi, seperti perpustakaan yang megah, media pembelajaran yang lengkap, dan media ekspresi yang memadai. Di sinilah, bangsa Indonesia bisa menatap masa depan pendidikannya. Dari pendidikanlah, Indonesia akan menggapai kemajuan dan kesejahteraan. UN bukanlah proses yang pendidikan yang ‘selesai’. Sebelum dan sesudah UN bahkan jauh lebih penting untuk dipikirkan, ditata, dan dikelola dengan managemen yang profesional. Semua komponen bangsa harus bersama-sama menyongsong masa depan dengan mutu pendidikan yang baik, jangan hanya sibuk dengan kepentingan politik. Kegaduhan politik tanpa substansi hanya merusak mutu pendidikan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s